Pakar Advertising UNS Sebut Strategi Caleg Pasang Baliho Dirasa Tak Efektif

Pakar Advertising UNS Sebut Strategi Caleg Pasang Baliho Dirasa Tak Efektif

Memasuki musim kampanye, tak sedikit baliho-baliho para calon legislatif (caleg) yang tampak bertengger memenuhi jalanan. Namun, ternyata strategi pemasangan baliho tersebut dinilai sudah tak lagi efektif, dan berpotensi jadi sampah visual.
Hal itu dikatakan pakar adversiting Universitas Sebelas Maret (UNS), Monika Sri Yuliarti. Menurutnya, baliho para caleg yang ditempatkan di tempat-tempat yang tidak seharusnya bisa berpotensi menjadi sampah visual yang tidak diinginkan masyarakat.

“Misalnya adanya spanduk di tempat-tempat yang tidak diijinkan oleh aturan KPU, misalnya di pohon, di tiang listrik, pertama permasalahannya adalah orangjadi dapat informasi yang sangat berlebih yang kadang orang itu sebetulnya nggak butuh,” kata Monika saat dihubungi detikJateng, Senin (1/1/2024).

Monika pun melihat, bahwa baliho caleg yang cenderung sering dipasang di white area juga dapat memengaruhi citra caleg itu sendiri. Meski kemungkinan baliho bukan dipasang oleh caleg maupun timses, persepsi pemilih terkait caleg tersebut bisa berubah.

“Bisa berpengaruh terhadap citra dia sendiri, misalnya calon nomor ini kok kemarin saya lihat dia masang di rumah warga misalnya, kan saya jadi akan punya persepsi yang berbeda dengan si calon ini. Walaupun itu bisa jadi sebenarnya bukan dari kandidatnya (yang memasang),” jelas Monika.

Bahkan, menurut Monika, pemasangan baliho oleh pendukung fanatik di white area itu juga bisa termasuk ke dalam black campaign. Sebab sudah tertulis dalam peraturan masing-masing daerah terkait white area pemasangan baliho.

“Jadi di satu sisi bisa jadi itu juga black campaign, karena si kandidatnya sendiri yang tidak mematuhi aturan. Saya juga sebenarnya heran, karena kalau dicari aturan pemasangan baliho itu kan sudah jelas white area di mana saja,” ujarnya.

Sampah visual ini pun tak hanya ditemukan secara fisik. Sampah visual poster para caleg bisa ditemukan secara digital, di mana poster para caleg bertebaran di banyak postingan di media sosial yang tidak sesuai konteksnya. Hal itu bisa membuat para calon pemilih di media sosial juga dibuat kesal dengan poster caleg yang bertebaran menjadi sampah visual.

“Misal iklan tentang Pemilu Presiden tapi hashtag-nya pakai hashtag yang trending. Misalnya NCT (boygroup Korea) publish album. Jadi yang sudah membatasi algoritme media sosialnya kan masih terpapar, artinya jadi sampah,” jelasnya.

“Jadi ini masih menurut saya jadi problem-problem kita semua, bagaimana orang bisa menggunakan media digital dengan lebih bijaksana,” tuturnya.

Monika yang tengah menempuh S3 di Ewha Womans University, Korea, itu pun membandingkan dengan keadaan Pilpres di Korea. Menurutnya, meski para kandidat juga memasang baliho, akan tetapi pemasangan tidak semrawut hingga harus dicopot oleh pihak berwenang.

“Harusnya nggak berbeda ya karena pasti di Korea seperti itu karena aturannya sudah ada. Nah, di Indonesia kan sebenarnya juga sudah ada, jadi kembali lagi mungkin karena sumber daya manusianya,” ungkapnya.

“Itu (pencopotan baliho) yang sebenarnya bikin saya heran juga sih, kegiatan berpolitik di Indonesia sampai sekarang PR-nya masih berputar di situ-situ saja,” sambungnya.

Sementara itu, terkait desain-desain baliho para caleg yang dibuat lucu dan nyeleneh, menurut Monika hal itu adalah strategi yang baagus untuk memikat suara calon pemilih pemula.

“Kalau secara umum terkait strategi mereka yang menggunakan simbol-simbol yang lucu, saya pikir ini bagus. Karena memang kayaknya dalam tren Pemilu akhir-akhir ini perhatian lebih banyak diberikan kepada pemilik pemula,” tuturnya.

Menurutnya, desain baliho caleg yang unik memang dapat menarik perhatian pemilih untuk lebih tertarik mencari tahu informasi terkait kandidat tersebut. Namun sayangnya, menurut Monika strategi pemasangan baliho secara fisik sudah tidak lagi efektif.

Menurutnya, baliho dirasa tidak terlalu efektif karena kini para pemilih lebih mementingkan kemampuan dan visi misi yang ditawarkan para kandidat. Sehingga selain menggunakan strategi baliho yang lucu atau nyeleneh, para caleg juga dipastikan harus bisa memperlihatkan kemampuan yang mereka miliki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *