Pose Sultan Disebut Kode Capres, Budayawan: Ngapurancang Sikap Kesopanan

Pose Sultan Disebut Kode Capres, Budayawan: Ngapurancang Sikap Kesopanan

Pose tangan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X saat berfoto dengan Ketum PSI Kaesang Pangarep ramai disebut menunjukkan kode yang mengarah pada pasangan capres-cawapres tertentu. Pemda DIY merespons dengan menyebut pose Sultan adalah ngapurancang. Begini pendapat budayawan soal ngapurancang dan pose Sultan.
Salah satu budayawan Jogja, Faizal Noor Singgih menjelaskan ngapurancang ialah sikap yang menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara, yang tak memperdulikan soal kasta ataupun jabatan.

“Ngapurancang itu sikap yang menunjukkan etika kesopanan. Jadi tidak hanya untuk kalangan tertentu tapi juga seluruh kalangan,” jelas Faizal saat dihubungi detikJogja, Selasa (16/1/2024).

“Kalau ngapurancang Jogja, yang khas itu, sebagai mana di gambar atau foto Sri Sultan itu tangan kanan ada di depan,” jelas Faizal.

“Kemungkinan ada (perbedaan), sebagaimana kalau yang Surakarta itu cenderung (tangan) kiri yang depan,” imbuhnya.

Sikap ngapurancang yang menjadi khas Jogja tersebut, lanjut Faizal, berasal dari semangat keprajuritan yang mana prajurit memiliki sikap siap sedia atau disebut Sawega Ing Gati.

“Jadi memang semangatnya semangat keprajuritan sejak berdirinya Keraton Jogja,” paparnya.

Pose Sultan Saat Foto dengan Kaesang
Mengenai pose Sultan yang diasumsikan warganet menunjukkan kode paslon tertentu, Faizal pun tak sependapat. Ia meyakini jika pose Sultan adalah murni ngapurancang.

“Kalau menurut saya murni ngapurancang, jadi pembawaan alami. Mungkin bisa juga dibandingkan tidak hanya dengan Kaesang, mungkin dengan foto-foto ketika Sultan ngapurancang bertemu dengan siapa, posisinya sama,” jelasnya.

“Kalau asumsi masyarakat ya monggo saja itu,” ujar Faizal melanjutkan.

“Sebagaimana keluarga Keraton Yogyakarta, ketika Ngarsa Dalem (Sultan) dan adik-adik beliau para pangeran, dengan didikan dari HB IX secara kekeluargaan, serta didikan Keraton yang penuh dengan kesopanan, nah jadi otomatis,” paparnya.

“Itu sudah pembawaan, kalau kita bicara tentang pembawaan itu secara otomatis sebagai sebuah penghormatan kepada orang yang dihadapi itu dengan ngapurancang. Gestur natural itu,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *